Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami berbagai perubahan, termasuk penurunan fungsi ginjal dan hati. Kondisi tersebut dapat membuat obat bertahan lebih lama di dalam tubuh sehingga risiko efek samping dan interaksi obat menjadi lebih tinggi. Karena itu, lansia perlu lebih berhati-hati dalam menggunakan obat, terutama obat yang dapat meningkatkan risiko jatuh, kebingungan, perdarahan, atau gangguan organ. Berikut 10 jenis obat yang umumnya perlu dihindari atau digunakan dengan sangat hati-hati pada lansia.
- Obat penenang golongan benzodiazepin
Contohnya diazepam, alprazolam, dan lorazepam. Obat ini dapat menyebabkan kantuk, pusing, gangguan keseimbangan, kebingungan, dan meningkatkan risiko jatuh. Penggunaan jangka panjang juga dapat menyebabkan ketergantungan. - Obat tidur tertentu
Beberapa obat tidur dapat menyebabkan rasa mengantuk berkepanjangan dan menurunkan kewaspadaan. Pada lansia, kondisi ini dapat meningkatkan risiko terjatuh, terutama ketika bangun pada malam hari. - Obat antikolinergik
Beberapa obat alergi, obat kandung kemih, dan obat tertentu untuk gangguan pencernaan memiliki efek antikolinergik. Pada lansia, obat ini dapat menyebabkan mulut kering, sembelit, sulit buang air kecil, penglihatan kabur, hingga kebingungan. - Obat antinyeri golongan NSAID
Contohnya ibuprofen, naproxen, https://www.mitierracarsaleshouston.com/ dan diclofenac. Penggunaan tertentu dapat meningkatkan risiko iritasi atau perdarahan lambung serta gangguan ginjal dan tekanan darah, terutama pada lansia dengan penyakit tertentu. - Obat penenang antihistamin generasi lama
Diphenhydramine dan beberapa antihistamin lama dapat menyebabkan kantuk dan kebingungan. Efek tersebut bisa lebih kuat pada orang lanjut usia. - Obat antipsikotik tertentu
Obat seperti haloperidol atau beberapa antipsikotik lainnya hanya boleh digunakan berdasarkan pertimbangan dokter. Pada lansia dengan demensia, obat-obatan tertentu dalam kelompok ini dapat meningkatkan risiko efek samping serius. - Obat diabetes tertentu
Beberapa obat penurun gula darah dapat menyebabkan hipoglikemia atau kadar gula darah terlalu rendah. Pada lansia, hipoglikemia dapat menyebabkan lemas, kebingungan, pingsan, bahkan cedera akibat jatuh. - Obat pengencer darah tertentu
Obat seperti warfarin memiliki manfaat penting bagi kondisi tertentu, tetapi membutuhkan pemantauan yang tepat karena dapat meningkatkan risiko perdarahan jika dosis atau penggunaannya tidak sesuai. - Obat yang mengandung opioid
Obat pereda nyeri opioid dapat menyebabkan kantuk, sembelit, pusing, kebingungan, dan gangguan pernapasan. Lansia biasanya lebih sensitif terhadap efek obat tersebut. - Obat yang digunakan tanpa resep atau rekomendasi tenaga kesehatan
Obat bebas sekalipun tidak selalu aman untuk lansia. Beberapa obat dapat berinteraksi dengan obat rutin yang sedang dikonsumsi atau memperburuk penyakit seperti hipertensi, penyakit ginjal, dan penyakit jantung.
Kesimpulannya, bukan berarti semua obat di atas sama sekali tidak boleh dikonsumsi lansia. Beberapa tetap diperlukan untuk kondisi medis tertentu, tetapi penggunaannya harus berdasarkan penilaian dokter dan dosis yang tepat. Lansia sebaiknya tidak menghentikan obat rutin secara tiba-tiba tanpa berkonsultasi dengan dokter. Selain itu, keluarga perlu memberi tahu dokter atau apoteker mengenai semua obat, vitamin, dan suplemen yang sedang dikonsumsi untuk mencegah interaksi yang berbahaya.